Ketika Kampung Nyaris Terpecah, Kapolsek Tambora Satukan Langkah: “Jangan Ada Lagi Anak Kita Jadi Korban Tawuran”
Jakarta Barat, jakwarta.com — Malam itu, suasana Jakarta Barat tak hanya dipenuhi lampu jalan dan lalu lintas yang masih bergerak. Di salah satu sudut wilayah perbatasan Tambora–Taman Sari, ada kegelisahan yang belum sepenuhnya reda. Tawuran yang sempat terjadi antara warga Kelurahan Tanah Sereal dan Kelurahan Krukut bukan sekadar peristiwa bentrok biasa—ia meninggalkan rasa waswas, luka, dan pertanyaan yang sama di kepala para orang tua: “Besok anak kita pulang selamat atau tidak?”
Di tengah kekhawatiran itu, Kapolsek Tambora Kompol Muhammad Kukuh Islami, S.I.K., M.I.K., hadir bukan hanya sebagai penegak hukum, tapi sebagai pihak yang menyadari satu hal penting: tawuran tidak bisa dihentikan dengan patroli saja. Tawuran harus dihentikan dengan hati, kerja sama, dan keberanian menyatukan yang sempat terpecah.
Itulah yang menjadi roh dari Rapat Silaturahmi Koordinasi Lintas Sektoral Tiga Pilar Kecamatan Tambora dan Tiga Pilar Kecamatan Taman Sari, yang digelar pada Senin malam (5/1/2026) di Graha Fenelink, Kelurahan Krukut, Taman Sari.
Kapolsek Tambora: Ini Soal Masa Depan Anak-anak Kita
Dalam forum itu, Kapolsek Tambora membawa pesan yang tegas namun penuh kepedulian. Ia menegaskan bahwa masalah tawuran bukan cuma urusan aparat, melainkan persoalan sosial yang akan terus terulang jika dibiarkan.
Koordinasi ini, menurutnya, bukan untuk sekadar membuat laporan “situasi aman”, melainkan mencegah luka baru—mencegah nyawa yang melayang, mencegah keluarga yang hancur karena kehilangan anak di usia muda.
Ia mengajak seluruh unsur—pemerintah wilayah, TNI, tokoh masyarakat, RW, LMK, FKDM, karang taruna, hingga potensi masyarakat—untuk bertanggung jawab bersama menjaga kampung.
Karena tawuran bukan hanya tentang siapa menang dan siapa kalah. Tawuran selalu meninggalkan korban: anak-anak yang masa depannya terputus, orang tua yang menangis, dan kampung yang rusak oleh dendam.
Walikota Jakbar: Jangan Mudah Termakan Hoaks
Walikota Administrasi Jakarta Barat, Ibu Iin Mutmainah, S.Sos, mengingatkan bahwa konflik sering dipicu bukan hanya oleh peristiwa nyata, tapi juga oleh informasi liar dan hoaks yang menyebar cepat, terutama lewat media sosial.
“Mari bersama-sama kita tingkatkan situasi kamtibmas di kampung kita. Pandai dalam menerima informasi sebelum hoaks tersebar,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan atensi penting agar lurah mendata anak putus sekolah dan mendorong pelatihan keterampilan. Karena, menurutnya, banyak konflik sosial berawal dari anak yang tidak punya ruang tumbuh yang sehat.
“Kampung Kite yang Jaga”
Camat Tambora Pangestu Aji Swandanu menegaskan bahwa Kelurahan Tanah Sereal dan Kelurahan Krukut harus kembali harmonis.
“Jangan sampai terpecah belah dan jangan sampai kejadian seperti kemarin terjadi kembali. Kampung kite yang jaga, kalo bukan kite siapa lagi,” tegasnya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi menampar kesadaran banyak orang: keamanan bukan hadiah, keamanan adalah kerja kolektif.
Suara Warga: Tawuran Itu Sering Dipicu Orang Luar
Di tengah forum, suara warga justru menjadi pengingat paling manusiawi.
Perwakilan warga Tanah Sereal Ridwan berharap rapat malam itu bukan hanya formalitas. Ia mengusulkan ta’lim keliling antar wilayah, sebagai jembatan persaudaraan dan pengikat sosial agar provokasi tak mudah masuk.
“Semoga kegiatan ini jadi jalan keluar agar tidak terulang kembali,” katanya.
Sementara LMK RW 07 Kelurahan Krukut, Ade, menyoroti realitas keras di lapangan: banyak anak nongkrong hingga dini hari, sebagian dari lingkungan ekonomi menengah ke bawah, dan tawuran sering muncul dari kumpulan yang kehilangan arah.
“Jangan sampai kegiatan ini cuma awalnya saja. Kedepannya harus ada perbaikan. Anak-anak yang terlibat tawuran harus diberi efek jera,” tegasnya.
Perwakilan warga Krukut Suhebi pun mengingatkan bahwa yang terjadi bukan pertarungan dua kampung, melainkan konflik yang kadang membuat warga yang tidak paham ikut terbakar emosi.
“Tambora dan Tanah Sereal itu keluarga. Warga yang tidak tahu akhirnya terpancing,” ujarnya.
RW Tanah Sereal: Kalau Terulang, Serahkan ke Polisi
Ketua RW 01 Tanah Sereal Widodo menyampaikan pengalaman penanganan konflik di masa lalu, termasuk surat pernyataan bagi pelaku tawuran.
“Kalau tertangkap kembali, langsung kami serahkan kepada pihak berwajib,” tegasnya.
Penutup: Malam Itu Jakarta Barat Memilih Damai
Malam itu, Graha Fenelink bukan hanya tempat rapat. Ia menjadi simbol: bahwa warga, aparat, dan pemimpin wilayah memilih untuk mencegah bencana sosial sebelum terjadi lagi.
Kapolsek Tambora menutup forum dengan satu tujuan besar yang dirasakan semua orang di ruangan itu: jangan ada lagi kampung yang retak, dan jangan ada lagi anak muda yang pulang dalam peti hanya karena tawuran.
Karena kampung bukan arena pertarungan. Kampung adalah rumah.
Dan rumah seharusnya dijaga bersama.
(Pray)
